Thread : Diskusi Taktik dan Strategi Sepakbola
Results 1 to 7 of 7

Share:

    • 's Avatar falseten is offline
      Member

      Join Date
      Jun 2012
      Posts
      30
    • Diskusi Taktik dan Strategi Sepakbola

      Ane mulai dengan kopas dari kompas.com ya

      "Catenaccio" Telah Mati

      SELAMA perhelatan Piala Eropa 2012, dan juga kompetisi sepak bola besar lainnya, selalu saja catenaccio disebut-sebut. Setiap ada tim yang bermain dengan fokus bertahan dan mengandalkan serangan balik, selalu disebut sepak bola catenaccio.

      Pada Piala Eropa 2012 lalu, Italia sebagai negara yang identik dengan catenaccio justru disebut mulai meninggalkan sepak bola bertahan itu. Bahkan, Inggris yang kemudian dituduh mengadopsi catenaccio.

      Padahal, catenaccio murni sebenarnya sudah lama mati. Bahkan, tim-tim Italia yang dianggap gemar catenaccio sudah lama tak menggunakannya.

      Catenaccio sebenarnya bukan dari Italia. Ide awalnya justru datang dari pelatih Austria, Karl Rappan. Dia memasang satu bek di belakang lini pertahanan, tepatnya di belakang dua bek tengah dan di depan kiper. Tugasnya menjamin keamanan. Jika lini belakang gagal menahan lawan, maka dia bisa menjadi penyapu terakhir sebelum kiper. Bek tambahan ini yang kemudian disebut sweeper atau penyapu. Rappan menyebut sistem ini dengan nama verrou atau gerendel.

      Lalu, gaya sepak bola ini kemudian populer di Italia, setelah pelatih Nereo Rocco mengadopsinya. Dia memodifikasi sweeper dengan libero. Bedanya, jika sweeper khusus menunggu lawan lepas atau menjadi defender terakhir. Libero juga demikian, tapi dia diberi kebebasan bergerak. Dengan tugas utama membantu pertahanan, tapi dia juga diberi tugas menjadi playmaker kedua.

      Sistem ini kemudian diperhalus oleh pelatih asal Argentina, Helenio Herrera, saat menangani Inter Milan pada era 1960-an. Rocco sukses bersama Milan degan juara Piala Champions (sekarang Liga Champions) musim 1962-63. Sedangkan Herrera sukses bersama Inter dengan menjuarai Piala Champions musim 1963-64 dan 1964-65.

      Salah satu kunci dan ciri khas catenaccio adalah penggunaan man marking. Pemain lawan akan ditempel ketat dan sedekat mungkin. Tugas penempelan pemain lawan ini biasanya dilakukan bek tengah, bek sayap, dan gelandang bertahan.

      Berbagai variasi catenaccio memang muncul. Tetapi, filosofinya, permainan defensif ini untuk mempertahankan keunggulan atau menghindari kemasukan gol. Juventus dengan bintangnya John Charles pernah memakai catenaccio juga. Setelah menjadi striker utama, tiba-tiba Charles turun menjadi bek tengah.

      Lalu, memasuki era 1970-an, muncul Ajax Amsterdam yang begitu superior dengan permainan menyerangnya. Di bawah pelatih Rinus Michels, Ajax juara Piala Champions 1970-71, mengalahkan Panathinaikos 2-0. Saat itu, Ajax mengusung sepak bola total (total football) yang antitesis terhadap permainan bertahan. Ajax bermain sangat menyerang dan bahkan serangan tak hanya diandalkan pada lini depan, tetapi juga bisa lini tengah, bahkan defender. Sehingga, sepak bola man marking gaya catenaccio akan kesulitan membuat skala prioritas siapa saja yang harus ditempel ketat karena semua pemain bisa menyerang dalam total football.

      Setahun kemudian, musim 1971-72, Ajax tak hanya mempertahankan Piala Champions. Tetapi, mereka juga menaklukkan catenaccio. Ajax yang bermain menyerang, menghajar Inter Milan 2-0 di final. Dua gol dicetak Johan Cruyff yang menjadi master permainan menyerang Ajax. Semusim kemudian, giliran Juventus yang dikalahkan Ajax di final Piala Champions. Di babak sebelumnya, AC Milan yang bermain bertahan dibantai Ajax 6-0.

      Sepak bola menyerang total telah lahir dan juga mengandalkan zonal marking. Sejak saat itu, catenaccio murni yang bertahan dan mengandalkan man marking dianggap sekarat, kemudian mati perlahan. Kalaupun ada tim yang bermain bertahan, bukan berarti menerapkan catenaccio.

      Catenaccio murni sudah kehilangan konteksnya di sepak bola modern. Apalagi setelah peraturan offside muncul dan lebih longgar bagi tim penyerang, maka catenaccio murni sudah tak cocok lagi, bahkan terasa riskan.

      Memang, permainan bertahan tak mati. Bedanya, pemain gerendel (sweeper atau libero) tak digunakan lagi karena terbukti ketinggalan zaman. Lalu, muncullah zona mista. Sistem ini menggabungkan zonal marking dengan catenaccio yang mengandalkan man marking.

      Di sistem zona mista, taktik bertahan adalah zonal marking. Namun, libero tetap dipertahankan untuk menempel (man marking) pemain paling berbahaya. Tim-tim Italia kemudian banyak yang menggunakan sistem ini dan mereka sukses di tingkat klub maupun timnas (juara Piala Dunia 1982). Enzo Bearzot merupakan tokoh sistem ini. Dan, sistem ini kemudian juga dikenal dengan Italian defense atau pertahanan gaya Italia.

      Lalu, Arrigo Sacchi menjadi pelatih AC Milan (1987-1991). Dia memperkenalkan sepak bola indah dan menyerang dengan mengandalkan trio Belanda (Ruud Gullit, Frank Rijkaard, dan Marco van Basten). Perlahan-lahan, tim sepak bola Italia meninggalkan catenaccio secara total.

      Meski begitu, kata catenaccio masih sering dipakai dalam dunia sepak bola. Setiap tim yang bertahan dan mengandalkan serangan balik selalu disebut catenaccio. Padahal, hampir sudah tak ada tim yang menggunakan sweeper atau bahkan libero. Kalaupun ada, bukan berarti sistem permainannya catenaccio.

      Tim yang kalah kualitas biasanya memang akan menerapkan permainan bertahan dan menerapkan serangan balik. Itu sudah wajar. Tetapi, kini masih sering terdengar latah soal catenaccio. Setiap tim yang bermain bertahan selalu dinilai menerapkan catenaccio. Padahal, bertahan tidak harus catenaccio. Sebab, bertahan itu adalah iktikad, rencana, dan strategi, bukan sistem. Dengan sistem apa pun, tim bisa bermain bertahan jika memang niatnya bertahan.

      Memang, roh catenaccio terkadang merasuki tim-tim yang bermain bertahan. Seperti kala Jose Mourinho menyuruh Pepe menempel ketat Lionel Messi kala Real Madrid melawan Barcelona. Namun, Madrid sebenarnya tak sedang menerapkan catenaccio. Sebab, catenaccio murni sebenarnya sudah mati.

      http://bolaeropa1.kompas.com/read/xm...cio.Telah.Mati

      Silahkan dilanjutkan diskusi tentang taktik dan strategi sepakbolanya.
    • #1 05-07-201209:59
    •  
    • 's Avatar adheet_ya is offline
      Member

      Join Date
      Jun 2012
      Location
      di pojokan KFC
      Posts
      63
    • Catenaccio awalnya memang digunakan untuk memperketat pertahanan,
      tapi jauh berbeda dengan taktik "parkir bus" yang dipraktekkan beberapa tim
      sampai2 permainan hanya berlangsung setengah lapangan ... membosankan

      mungkin dari Euro 2012 ada lagi taktik yang menarik,
      yaitu taktik Del Bosque yang sama sekali tidak menurunkan striker ...
      apa sebelumnya ada tim yang pernah memakai taktik serupa ??
    • #2 07-07-201202:46
    •  
    • 's Avatar falseten is offline
      Member

      Join Date
      Jun 2012
      Posts
      30
    • Pertanyaan yg menarik om.
      Katanya sih taktik false nine udah lama ada, walau ga byk yg pake. Googling dulu ahhh.....hehehe.


      Spanyol di Euro 2012 berarti pake taktik false nine dan strategi tiki taka ya?
    • #3 07-07-201217:23
    •  
    • 's Avatar adheet_ya is offline
      Member

      Join Date
      Jun 2012
      Location
      di pojokan KFC
      Posts
      63
    • Quote Originally Posted by falseten View Post
      Pertanyaan yg menarik om.
      Katanya sih taktik false nine udah lama ada, walau ga byk yg pake. Googling dulu ahhh.....hehehe.


      Spanyol di Euro 2012 berarti pake taktik false nine dan strategi tiki taka ya?
      blom pernah denger klo False-Nine dah pernah dipake, tapi bisa aja udah pernah ada
      ini semua gara2 tiki-taka ... akhirnya numpuk semua pemain di tengah, nunggu konsentrasi lawan lemah baru masuk ke depan

      susahnya klo lawan musuh yang full konsentrasi dalam bertahan, kayak Barca - Chelsea di UCL musim lalu
    • #4 08-07-201205:12
    •  
    • 's Avatar falseten is offline
      Member

      Join Date
      Jun 2012
      Posts
      30
    • Sebenarnya tidak ada inovasi taktik yang menonjol selama Piala Eropa 2012 yang baru berakhir itu. Banyak yang keranjingan membicarakan bagaimana jeniusnya Vicente Del Bosque dengan Cesc Fabregas sebagai False Nine, tapi mereka yang sadar dengan perkembangan taktik sepak bola dunia atau pernah membaca entri Anatomi Sepak bola terdahulu, pasti tahu bahwa strategi tersebut tak baru-baru amat.

      Pada dekade yang lampau, Luciano Spaletti menerapkan taktik yang sama hampir setiap pekan dengan Francesco Totti sebagai False Nine. Sir Alex Ferguson juga pernah memakai strategi yang sama dengan formasi 4-6-0 dengan tidak satu pun dari trio Wayne Rooney-Cristiano Ronaldo-Carlos Tevez bermain di depan.

      Bahkan Jepang di Piala Dunia 2010 juga menerapkan hal yang sama saat Takeshi Okada memplot Keisuke Honda sebagai untuk turun jauh ke belakang. False Nine hanya barang segar bagi yang baru melihatnya.

      Ada lagi yang taktik yang sebenarnya mencolok saat Cesare Prandelli menguak kenangan dekade 80-an sampai pertengahan 90-an saat ia menurunkan Daniele De Rossi sebagai seorang libero dalam skema 3-5-2 saat melawan Spanyol di awal turnamen. Tapi sulit untuk mengatakan bahwa taktik tersebut adalah hal yang menonjol selama Euro 2012 karena Prandelli hanya menggunakannya di fase grup.

      Pada fase knock-out, Prandelli kembali memakai formasi 4-4-2 diamond yang pada perkembangannya memberi sesuatu yang menarik untuk dicermati.

      Berposisi di ujung terbawah dari diamond-nya Italia, Andrea Pirlo adalah titik sentral dari permainan tim Azzuri. Ia memiliki dua orang enforcer di depannya untuk melindungi dalam diri De Rossi dan Claudio Marchisio. Di ujung atas dari diamond Italia ada Riccardo Montolivo yang diturunkan Prandelli sejak perempatfinal karena Thiago Motta dianggap tidak cukup fit.

      Biasanya dalam ujung bawah dari formasi diamond dihuni oleh seorang gelandang bertahan yang mempunyai kemampuan merusak. Tapi kemampuan Andrea Pirlo sebagai seorang deep-lying playmaker mengharuskannya bermain di pos itu dan bukan De Rossi yang lebih defensif.

      Yang menarik adalah bagaimana pemain yang menempati posisi ujung atas. Biasanya pemain yang menempati pos itu adalah seorang gelandang menyerang dengan kemampuan playmaking.

      Deco melakukannya bersama Chelsea, demikian juga dengan Wesley Sneijder. Prandelli memiliki Alessandro Diamanti di bangku cadangan, seseorang yang memenuhi kriteria demikian, tapi ia lebih memilih memasang Montolivo, sejatinya seorang regista/deep-lying playmaker, sama seperti Pirlo.

      Karena posisinya aslinya seorang regista, Montolivo memiliki kecenderungan untuk turun ke bawah dibanding berkeliaran menunggu suplai bola di tengah lapangan. Kita acap kali melihat bagaimana saat Italia memegang bola, Montolivo berada tak jauh dari Pirlo. Seorang playmaker biasa tak akan turun sejauh itu. Sebaliknya saat Italia sedang bertahan, Montolivo naik sedikit ke atas dan memberi tekanan pada gelandang lawan yang sedang memegang bola.

      Montolivo melakukan tugas defensif ini dengan baik sekali, terlebih saat partai semifinal melawan Jerman. Ia secara berkala mengganggu pemain Jerman yang sedang memegang bola untuk menghentikan alur permainan lalu kemudian kembali bergabung dengan tiga gelandang Italia lainnya.

      Sebenarnya penempatan Montolivo dalam posisi itu menjadikan skema diamond Italia menjadi versi terbalik dari yang kita kenal selama ini. Pos yang biasanya dihuni pemain bertahan sekarang dihuni playmaker menyerang (Pirlo), sebaliknya pos yang biasanya dihuni gelandang menyerang di tempat oleh Montolivo. Kemampuan playmaking-nya tetap dibutuhkan tapi di saat yang sama ia juga memberikan kontribusi defensif. Istilah yang populer selama Euro kemarin adalah defensive playmaker.

      Kontribusi Montolivo secara ofensif pun tak kurang banyak. Umpan jauhnya yang brilian kepada Mario Balotelli adalah cerminan dari betapa nyamannya ia selama ini bermain sebagai seorang regista.

      Lagi-lagi posisi defensive playmaker ini sebenarnya tak baru-baru amat. Yang membuatnya mengesankan adalah karena Prandelli memakai formasi diamond dan memberi penonton pemandangan yang berbeda dengan biasa mereka temui selama ini.

      Saat Inggris melawan Italia, Wayne Rooney sebenarnya dipercaya akan berposisi mirip sebagai seorang defensive playmaker. Saat memegang bola ia akan menjadi orkestrator dan saat bertahan ia akan mengganggu pemain lawan yang menjadi jantung permainan tim. Nyatanya hampir sepanjang pertandingan Rooney membiarkan Pirlo bebas mendapat bola seperti seorang hansip yang ketiduran saat sedang ronda.

      Susah untuk menyematkan gelar playmaker kepada Park Ji Sung karena ia tak dikenal memiliki killer pass dan visi lapangan yang luar biasa, tapi peran defensif yang serupa juga dijalaninya saat Manchester United berhadapan dengan AC Milan tahun 2010.

      Park membayangi Pirlo dan United menang agregat 7-2 dalam dua leg. Rooney melakukan hal yang sama pada Sergio Busquets dalam final Champions League 2011 dalam 10 menit pertama, tapi kemudian ia tidak melanjutkannya dan gelandang-gelandang Barcelona membuldozer lini tengah United kemudian.

      Sayangnya memang efektivitas Montolivo dalam menjalankan peran bertahan tak terulang lagi pada partai final. Ia keletihan menekan Xabi Alonso dan Busquets saat dua rekannya yang lain, Marchisio dan De Rossi berkonsentrasi untuk pressing Xavi, Iniesta, dan Fabregas.

      Montolivo telah bergabung ke AC Milan untuk musim depan dan hampir dipastikan ia akan menempati posisi regista yang ditinggalkan Pirlo dulu. Apakah Massimiliano Allegri akan meniru strategi Prandelli untuk menempati seorang defensive playmaker untuk menemani Montolivo menjadi sesuatu yang menarik untuk ditunggu.

      sumber : http://www.beritasatu.com/blog/olahr...playmaker.html
    • #5 19-07-201208:39
    •  

Posting Permissions

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts